Budaya dan Pendidikan untuk
Memanusiakan ManusiaOleh Abd Ghani *
Perubahan nama Kementerian Pendidikan Nasional menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dilakukan pemerintah patut diapresiasi. Pemerintah tentu saja memiliki alasan kuat mengembalikan nama kementerian yang dipimpin M. Nuh tersebut menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, salah satunya mendongkrak mutu pendidikan melalui perpaduan pendidikan dan kebudayaan.
Patut diketahui bahwa kebudayaan itu sangat luas cakupannya. Kebudayaan berasal dari kata dasar budaya yang ditambahkan imbuhan ke-an yang berarti perihal atau seluk-beluk tentang budaya itu. Budaya yang dimaksud bukan saja budaya yang dapat ditonton, seperti tari Pamonte, tari Pendet, reog Ponorogo. Namun lebih dari itu. Budaya sangat universal, mencakup nilai pendidikan di dalamnya.
Ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan, pendidikan dan kebudayaan sangat berkaitan erat. Pendidikan yang mengajarkan keluhuran manusia dalam mencari ilmu secara tekun dan jujur merupakan salah satu budaya. Mengapa? Budaya tidak saja membicarakan sesuatu yang dilihat, namun secara abstrak budaya memiliki nilai-nilai luhur yang dapat diaplikasikan secara nyata.
Di dalam sistem pendidikan saat ini budaya yang diterapkan adalah budaya abal-abal yang membawa mutu pendidikan mengalami kemerosotan. Budaya abal-abal yang dimaksud adalah menjamurnya contek massal saat ujian mulai pendidikan dasar hingga menengah, tawuran antarpelajar, dan tingkat kedisiplinan yang rendah yang membawa pengaruh terhadap hasil ujian nasional yang tentu saja berhubungan erat dan timbal balik menurunnya sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni.
Contek massal tentu saja bukan hal tabu lagi untuk dirahasiakan. Sudah menjadi rahasia umum yang terjadi saat berlangsungnya ujian nasional (tepatnya setahun lalu). Di media, baik cetak maupun elektronik diberitakan terungkapnya kecurangan saat ujian nasional berlangsung, yang masih membekas diingatan tentu saja kasus anak SD di salah satu daerah di Pulau Jawa yang mengaku di bawah komando guru untuk memberikan contekan kepada teman-temannya. Dunia pendidikan terhenyak, tak menyangka hal itu terjadi pada peserta didik di pendidikan dasar. Muncul asumsi, di pendidikan dasar saja sudah begitu, bagaimana dengan pendidikan menengah?
Mau dibawa ke mana negara ini jika dunia pendidikannya saja sudah dijangkiti virus ketidakjujuran? Harus diingat, mutu pendidikan akan tetap jalan di tempat selama budaya contek massal tersebut dipelihara dan ditumbuhkembangkan, karena peserta didik menjadi malas berpikir, menjadi malas belajar, acuh tak acuh. Ujian atau tidak ujian sama saja.
Unsur penting untuk memberantas contek massal yaitu peran kepala sekolah untuk tegas dan ketat menerapkan aturan di sekolah, siswa yang ketahuan menyontek langsung diberikan teguran, hingga peringatan keras. Guru juga memiliki peran untuk mengubur budaya contek massal. Berikan pemahaman kepada siswa untuk meninggalkan kebiasaan tersebut, motivasi peserta didik untuk tekun belajar, dan tak lupa guru harus sadar diri saat berlangsungnya ujian nasional, bahwa yang ujian adalah peserta didik, bukan guru. Selanjutnya pengawas sekolah juga harus menjalankan perannya dengan maksimal, selalu lakukan pengawasan secara berkala dan merata di setiap sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan yang berkualitas secara jujur dan transparan.
Dan Alhamdulillah, pelaksanaan ujian nasional di segala jenjang pada tahun ini dapat dikatakan berjalan dengan lancar dan baik. Indikator utamanya, kurangnya pemberitaan mengenai kecurangan-kecurangan yang terjadi. Namun, masih ada saja yang mencoreng, yaitu terungkap dan tertangkapnya joki-joki pada pelaksanaan SNMPTN jalur tertulis di beberapa tempat. Sangat disayangkan tentunya. Renungkanlah, betapa meruginya pendidikan di negara ini, jika mahasiswa yang digadang-gadang sebagai intelektual muda, pada proses masuknya (hanya oknum-oknum) masih menggunakan joki-joki untuk memuluskan namanya masuk ke perguruan tinggi.
Tentunya, tidak semua, dan hanya sebagian kecil (segelintir) saja yang memanfaatkan jasa-jasa ‘kotor’ para joki. Tetapi, jika tidak ada kesadaran dan kemauan untuk menggerus pola-pola seperti itu, tentu saja, hal-hal yang dianggap ‘kecil’ itu akan mencoreng niat tulus mahasiswa yang jujur dan yang baik-baik. Semua itu harus menjadi perhatian kita, semua elemen tanpa terkecuali.
Selanjutnya, tawuran antarpelajar juga harus dikikis habis. Pendidikan tidak pernah mengajarkan permusuhan dan kebencian, kebudayaan juga begitu, mengajarkan cinta kasih dan menghargai arti kehidupan. Pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat harus bergandengan tangan memberikan nasihat kepada peserta didik khususnya betapa menumbuhkan benih kebencian terhadap sesama itu tidak baik, dibenci Tuhan. Perbedaan pandangan dan pendapat merupakan hal lumrah, semua ada hikmah di balik perbedaan itu. Ibarat warna, tentu tak akan indah jika warna yang ada di dunia ini hanya putih. Begitu pula dengan perbedaan yang ada.
Selanjutnya tingkat kedisiplinan juga harus ditingkatkan, baik oleh guru mapun peserta didik. Guru harus memberikan contoh yang baik, taat kepada aturan sekolah, dan menghargai waktu. Demikian juga dengan peserta didik. Jika sekolah menerapkan aturan bahwa pukul 07.00 sudah apel pagi dan tidak boleh ada yang terlambat, maka ikuti aturan itu. Tidak boleh ada alasan lambat bangun, itu alasan kuno yang seolah menjadi pembenaran atas ketidakdisiplinan. Orang tua wajib berperan dalam meningkatkan kedisiplinan anak-anaknya. Jangan biarkan anak-anak tetap pulas tidur saat waktu untuk pergi ke sekolah, kalau perlu siram dengan air jika anak tersebut masih malas-malasan di tempat tidur. Itu baru namanya mendidik, dan orang tua yang seperti itu merupakan orang tua idaman karena sangat memerhatikan pendidikan dan masa depan anaknya.
Begitu juga dengan para orang tua, pejabat, dan seluruh unsur yang ada di negeri ini. Tunduk dan patuh pada kedisiplinan harus dijadikan sebagai sebuah harga mati. Contoh sederhana, jika ada undangan rapat pukul 08.00 pagi, maka yang diundang tersebut harus berada di tempat rapat paling lambat pukul 08.00 pagi juga, bukan pukul 08.00 baru siap untuk berangkat. Malah ada yang lebih parah, saat itu juga baru berkemas untuk mandi. Sangat disayangkan jika masih ada mental seperti itu. Mental ini harus dikikis habis, kalau tidak habis dikikis, mungkin diblender dan ditelan habis sampai tak tersisa. Hehehe
Oleh karena itu, mari berjalan bersama satu tujuan, bergandengan tangan untuk meningkatkan mutu pendidikan untuk menciptakan SDM yang mumpuni, layak dan siap pakai. Selaraskan pendidikan dengan kebudayaan, ciptakan pendidikan yang baik dengan menjunjung budaya yang luhur. Hilangkan budaya contek massal, tetap percaya diri saat ujian berlangsung, hargai dan hormati sesama manusia sesuai kodratnya, dan tingkatkan kedisplinan, karena jika pendidikan dan kebudayaan itu selaras dan sejalan, maka akan menciptakan manusia yang luwes dalam belajar, dan luwes dalam berinteraksi sosial.
Mari selaraskan budaya dan pendidikan untuk menciptakan manusia Indonesia yang handal, yang mampu membawa Indonesia menuju kejayaan, dan bukan ke jurang nestapa seperti maraknya korupsi saat ini. Kita semua harus sadar dan ingat dengan pepatah dari Sulawesi Utara yang diucapkan oleh Dr. Samratulangi, sitou timou tumou tou, manusia dikatakan sebagai manusia jika dia sudah bisa memanusiakan manusia. Hidup butuh pilihan, maka pilihlah jalan yang akan membuat kita dikenang sepanjang masa.
*Mahasiswa pada Program Studi
Pendidikan, Bahasa, Sastra Indonesia,
dan Daerah, FKIP-Universitas Tadulako.
Radar Sulteng, edisi Senin 9 Juli 2012.
Perubahan nama Kementerian Pendidikan Nasional menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dilakukan pemerintah patut diapresiasi. Pemerintah tentu saja memiliki alasan kuat mengembalikan nama kementerian yang dipimpin M. Nuh tersebut menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, salah satunya mendongkrak mutu pendidikan melalui perpaduan pendidikan dan kebudayaan.
Patut diketahui bahwa kebudayaan itu sangat luas cakupannya. Kebudayaan berasal dari kata dasar budaya yang ditambahkan imbuhan ke-an yang berarti perihal atau seluk-beluk tentang budaya itu. Budaya yang dimaksud bukan saja budaya yang dapat ditonton, seperti tari Pamonte, tari Pendet, reog Ponorogo. Namun lebih dari itu. Budaya sangat universal, mencakup nilai pendidikan di dalamnya.
Ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan, pendidikan dan kebudayaan sangat berkaitan erat. Pendidikan yang mengajarkan keluhuran manusia dalam mencari ilmu secara tekun dan jujur merupakan salah satu budaya. Mengapa? Budaya tidak saja membicarakan sesuatu yang dilihat, namun secara abstrak budaya memiliki nilai-nilai luhur yang dapat diaplikasikan secara nyata.
Di dalam sistem pendidikan saat ini budaya yang diterapkan adalah budaya abal-abal yang membawa mutu pendidikan mengalami kemerosotan. Budaya abal-abal yang dimaksud adalah menjamurnya contek massal saat ujian mulai pendidikan dasar hingga menengah, tawuran antarpelajar, dan tingkat kedisiplinan yang rendah yang membawa pengaruh terhadap hasil ujian nasional yang tentu saja berhubungan erat dan timbal balik menurunnya sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni.
Contek massal tentu saja bukan hal tabu lagi untuk dirahasiakan. Sudah menjadi rahasia umum yang terjadi saat berlangsungnya ujian nasional (tepatnya setahun lalu). Di media, baik cetak maupun elektronik diberitakan terungkapnya kecurangan saat ujian nasional berlangsung, yang masih membekas diingatan tentu saja kasus anak SD di salah satu daerah di Pulau Jawa yang mengaku di bawah komando guru untuk memberikan contekan kepada teman-temannya. Dunia pendidikan terhenyak, tak menyangka hal itu terjadi pada peserta didik di pendidikan dasar. Muncul asumsi, di pendidikan dasar saja sudah begitu, bagaimana dengan pendidikan menengah?
Mau dibawa ke mana negara ini jika dunia pendidikannya saja sudah dijangkiti virus ketidakjujuran? Harus diingat, mutu pendidikan akan tetap jalan di tempat selama budaya contek massal tersebut dipelihara dan ditumbuhkembangkan, karena peserta didik menjadi malas berpikir, menjadi malas belajar, acuh tak acuh. Ujian atau tidak ujian sama saja.
Unsur penting untuk memberantas contek massal yaitu peran kepala sekolah untuk tegas dan ketat menerapkan aturan di sekolah, siswa yang ketahuan menyontek langsung diberikan teguran, hingga peringatan keras. Guru juga memiliki peran untuk mengubur budaya contek massal. Berikan pemahaman kepada siswa untuk meninggalkan kebiasaan tersebut, motivasi peserta didik untuk tekun belajar, dan tak lupa guru harus sadar diri saat berlangsungnya ujian nasional, bahwa yang ujian adalah peserta didik, bukan guru. Selanjutnya pengawas sekolah juga harus menjalankan perannya dengan maksimal, selalu lakukan pengawasan secara berkala dan merata di setiap sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan yang berkualitas secara jujur dan transparan.
Dan Alhamdulillah, pelaksanaan ujian nasional di segala jenjang pada tahun ini dapat dikatakan berjalan dengan lancar dan baik. Indikator utamanya, kurangnya pemberitaan mengenai kecurangan-kecurangan yang terjadi. Namun, masih ada saja yang mencoreng, yaitu terungkap dan tertangkapnya joki-joki pada pelaksanaan SNMPTN jalur tertulis di beberapa tempat. Sangat disayangkan tentunya. Renungkanlah, betapa meruginya pendidikan di negara ini, jika mahasiswa yang digadang-gadang sebagai intelektual muda, pada proses masuknya (hanya oknum-oknum) masih menggunakan joki-joki untuk memuluskan namanya masuk ke perguruan tinggi.
Tentunya, tidak semua, dan hanya sebagian kecil (segelintir) saja yang memanfaatkan jasa-jasa ‘kotor’ para joki. Tetapi, jika tidak ada kesadaran dan kemauan untuk menggerus pola-pola seperti itu, tentu saja, hal-hal yang dianggap ‘kecil’ itu akan mencoreng niat tulus mahasiswa yang jujur dan yang baik-baik. Semua itu harus menjadi perhatian kita, semua elemen tanpa terkecuali.
Selanjutnya, tawuran antarpelajar juga harus dikikis habis. Pendidikan tidak pernah mengajarkan permusuhan dan kebencian, kebudayaan juga begitu, mengajarkan cinta kasih dan menghargai arti kehidupan. Pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat harus bergandengan tangan memberikan nasihat kepada peserta didik khususnya betapa menumbuhkan benih kebencian terhadap sesama itu tidak baik, dibenci Tuhan. Perbedaan pandangan dan pendapat merupakan hal lumrah, semua ada hikmah di balik perbedaan itu. Ibarat warna, tentu tak akan indah jika warna yang ada di dunia ini hanya putih. Begitu pula dengan perbedaan yang ada.
Selanjutnya tingkat kedisiplinan juga harus ditingkatkan, baik oleh guru mapun peserta didik. Guru harus memberikan contoh yang baik, taat kepada aturan sekolah, dan menghargai waktu. Demikian juga dengan peserta didik. Jika sekolah menerapkan aturan bahwa pukul 07.00 sudah apel pagi dan tidak boleh ada yang terlambat, maka ikuti aturan itu. Tidak boleh ada alasan lambat bangun, itu alasan kuno yang seolah menjadi pembenaran atas ketidakdisiplinan. Orang tua wajib berperan dalam meningkatkan kedisiplinan anak-anaknya. Jangan biarkan anak-anak tetap pulas tidur saat waktu untuk pergi ke sekolah, kalau perlu siram dengan air jika anak tersebut masih malas-malasan di tempat tidur. Itu baru namanya mendidik, dan orang tua yang seperti itu merupakan orang tua idaman karena sangat memerhatikan pendidikan dan masa depan anaknya.
Begitu juga dengan para orang tua, pejabat, dan seluruh unsur yang ada di negeri ini. Tunduk dan patuh pada kedisiplinan harus dijadikan sebagai sebuah harga mati. Contoh sederhana, jika ada undangan rapat pukul 08.00 pagi, maka yang diundang tersebut harus berada di tempat rapat paling lambat pukul 08.00 pagi juga, bukan pukul 08.00 baru siap untuk berangkat. Malah ada yang lebih parah, saat itu juga baru berkemas untuk mandi. Sangat disayangkan jika masih ada mental seperti itu. Mental ini harus dikikis habis, kalau tidak habis dikikis, mungkin diblender dan ditelan habis sampai tak tersisa. Hehehe
Oleh karena itu, mari berjalan bersama satu tujuan, bergandengan tangan untuk meningkatkan mutu pendidikan untuk menciptakan SDM yang mumpuni, layak dan siap pakai. Selaraskan pendidikan dengan kebudayaan, ciptakan pendidikan yang baik dengan menjunjung budaya yang luhur. Hilangkan budaya contek massal, tetap percaya diri saat ujian berlangsung, hargai dan hormati sesama manusia sesuai kodratnya, dan tingkatkan kedisplinan, karena jika pendidikan dan kebudayaan itu selaras dan sejalan, maka akan menciptakan manusia yang luwes dalam belajar, dan luwes dalam berinteraksi sosial.
Mari selaraskan budaya dan pendidikan untuk menciptakan manusia Indonesia yang handal, yang mampu membawa Indonesia menuju kejayaan, dan bukan ke jurang nestapa seperti maraknya korupsi saat ini. Kita semua harus sadar dan ingat dengan pepatah dari Sulawesi Utara yang diucapkan oleh Dr. Samratulangi, sitou timou tumou tou, manusia dikatakan sebagai manusia jika dia sudah bisa memanusiakan manusia. Hidup butuh pilihan, maka pilihlah jalan yang akan membuat kita dikenang sepanjang masa.
*Mahasiswa pada Program Studi
Pendidikan, Bahasa, Sastra Indonesia,
dan Daerah, FKIP-Universitas Tadulako.
Radar Sulteng, edisi Senin 9 Juli 2012.